Khutbah

Khutbah Jum’at Masjidil Haram 17 Jumadil Awwal 1445 H

Khutbah Jumat Masjidil Haram

17 Jumadil Awwal 1445 H (1 Desember 2023)

Pada Hari Dinampakkan Segala Rahasia

Oleh: Syaikh Prof. Dr. Faishal Ghazawi hafizhahullahu ta’ala

Download Naskah Khutbah

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ، عَالِمُ الْغَيْبِ، لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ [سَبَأٍ: 3]، يَعْلَمُ سِرَّ خَلْقِهِ وَجَهْرَهُمْ، وَيَعْلَمُ مَا يَكْسِبُونَ، لَا تُخْفِي لَهُ مِنْهُمْ خَافِيَةٌ، عِلْمُهُ بِهِمْ مُحِيطٌ، وَبَصَرُهُ فِيهِمْ نَافِذٌ، وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، عَالِمُ السِّرِّ وَالنُّجُومِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنِ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَارَ عَلَىٰ نُهُجِهِمْ وَاقْتَفَىٰ.

Segala puji bagi Allah yang memiliki segala sesuatu di langit, di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, serta yang berada di bawah tanah. Dia Maha Mengetahui yang gaib. “Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi.” (QS. Saba: 3). Allah mengetahui rahasia penciptaan-Nya dan apa yang mereka nyatakan, Dia mengetahui apa yang mereka usahakan. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, pengetahuan-Nya mencakup mereka sepenuhnya, dan penglihatan-Nya menembus mereka. Mereka akan kembali kepada-Nya, dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Mengetahui akan rahasia dan pembicaraan yang tersembunyi. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, semoga shalawat dan salam selalu tercurah atasnya, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan berjalan di atas jejak mereka.

Amma ba’du.

Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah, Rabbmu dalam segala keadaanmu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri melihat apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18).

Karena Dia, yang Maha Suci, memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang semua perbuatan kita, baik yang baik maupun yang buruk. Tidak ada yang tersembunyi darinya, baik itu kebaikan atau keburukan kita.

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya di antara peristiwa besar yang akan terjadi pada Hari Kiamat adalah bahwa segala rahasia akan menjadi terang benderang dan yang tersembunyi akan menjadi nampak, sebagaimana Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dalam kitab-Nya,

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari Ketika dinampakkan segala rahasia.” (Surah At-Tariq: 9).

Pada hari itu, hati nurani akan diuji, rahasia-rahasia akan terbongkar, keyakinan, dan niat baik akan diketahui dari yang buruk, yang sehat dari yang cacat, dan hal-hal yang tersembunyi akan diungkap.

Wahai hamba-hamba Allah, pada Hari Kiamat, segala amal baik dan buruk yang ada dalam hati akan terungkap di wajah-wajah:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.” (Surah Ali Imran: 106).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa hatinya baik, amal perbuatannya pun baik, sehingga terlihat kebaikan hatinya pada wajahnya, yakni cahaya, kecerahan, dan keindahan. Barangsiapa hatinya buruk, amal perbuatannya juga mengikuti keburukan hatinya, tanpa mempedulikan penampilannya, sehingga terlihat keburukan hatinya pada wajahnya, yakni kegelapan, kegelapan, dan kejelekan.”

Saudara-saudara, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyadari keagungan peristiwa tersebut, di mana kita akan dihisab dan segala yang tersembunyi akan terbuka:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).(Surah Al-Haqqah: 18).

Ini adalah pertemuan dengan Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan perbincangan, yang tidak ada yang tersembunyi darinya, baik hal-hal yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah berfirman,

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ

“Di tempat itu (padang Mahsyar), setiap jiwa merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya (dahulu).” (Surah Yunus: 30).

Allah juga berfirman,

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا في الْقُبُورِ وَحُصِّلَ مَا في الصُّدُورِ

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?(Surah Al-Adiyat: 9-10).

Oleh karena itu, bagi siapa yang yakin bahwa Allah melihatnya di mana pun dia berada, bahwa Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang terang, serta rahasia dan kejelasan, hendaklah dia memperbaiki amalannya sedari sekarang. Waspadalah terhadap kelalaian dan kemaksiatan, terimalah petunjuk dan nasihat, dan berusahalah meninggalkan apa yang dapat menimbulkan malu dan kehinaan pada hari di mana segala catatan akan diungkap, dan tidak ada yang tersembunyi, melainkan segala yang ada di dalam dada akan diungkap.

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari Ketika dinampakkan segala rahasia.” (Surah At-Tariq: 9).

Itu adalah ancaman yang besar dan nasihat yang agung bagi setiap orang yang berkhianat; karena pada hari esoknya, hasil dari perbuatannya akan terungkap, dan segala urusannya akan terbongkar. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda: “Maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, ‘Ini adalah bendera si fulan bin fulan.”

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari Ketika dinampakkan segala rahasia.” (Surah At-Tariq: 9).

Itulah peringatan yang paling besar dan pelajaran yang paling efektif bagi setiap orang yang bersikap sombong dan merasa aman dari rahasia dan pengertian Allah. Bagi orang yang melakukan dosa di tempat-tempat tersembunyi dan tidak merasa bersalah, hari itu ia akan menjumpai akibat perbuatannya. Oleh karena itu, wahai hamba Allah, jika Allah telah menutupi aib dan kesalahanmu saat engkau berdua dengan-Nya, janganlah lengah. Waspadalah terhadap kelanjutan perbuatan dosa dengan melepas pandangan pada hal-hal yang keji dan terlarang, dan berhati-hatilah dengan terus-menerus mendengarkan hal-hal yang terlarang. Ingatlah bahwa rahasiamu, yang hanya diketahui oleh Allah saat ini, akan terbuka suatu hari nanti. Sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ: “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika kembali kepada apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus mengerjakannya.”

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari Ketika dinampakkan segala rahasia.” (Surah At-Tariq: 9).

Sungguhlah nasihat yang menyadarkan, yang mengungkapkan keadaan orang yang hidupnya penuh dengan tipu daya, kecurangan, dan khianat. Pada hari kehinaan dan kehancuran, kesalahan-kesalahannya akan terungkap, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau ﷺ: “Barangsiapa yang menipu kami, maka bukan bagian dari kami, dan tipu daya serta khianat berada dalam neraka.” Ini adalah ancaman dan peringatan bagi mereka yang terus menerus melakukan penipuan. Tipu daya dan khianat termasuk jenis dosa yang akan membawa pelakunya ke dalam neraka.

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari Ketika dinampakkan segala rahasia.” (Surah At-Tariq: 9).

Celakalah orang munafik dan pemberontak yang menampakkan yang bertentangan dengan yang dia sembunyikan dan yang dirahasiakannya. Inilah bencana terbesar yang menimpanya dan situasi yang paling berbahaya ketika urusannya terungkap. Pada hari ketika dia bertemu dengan Rabbnya, dan segala rahasia terbongkar; yaitu, semua yang disembunyikannya muncul ke permukaan. Pada saat itu, seorang hamba tidak akan dapat menyembunyikan kesalahan-kesalahannya, dan apa yang tersembunyi dari keburukan niatnya akan terungkap. Allah berfirman:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Ma-ha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan.” [An-Nisa: 108].

Ayat ini sudah cukup menjadi pelajaran bagi manusia tentang kekurangan rasa malu dan takut kepada Tuhannya, bahwa mereka selalu di hadapan-Nya tanpa tirai, tanpa kelalaian, dan tanpa persembunyian. Hanya ada keterbukaan dan kejelasan, karena Dia, Maha Suci, mengetahui rahasia mereka dan tahu apa yang ada dalam hati mereka. Pada hari kiamat, perbuatan mereka akan terungkap, dan segala rahasia mereka akan terbongkar:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ

“(Yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.“ [Ghafir: 16].

أَقُولُ هَذَا الْقَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوا وَتُوبُوا إلَيْهِ، إنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ.

Saya menyampaikan perkataan ini dan memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk saya, untuk Anda, dan untuk seluruh umat Islam. Maka mintalah ampunan dan bertaubatlah kepada-Nya, sungguh Rabbku Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ بَارِيءِ الْبَرِيَّةِ، الْعَالِمِ بِالظُّوَاهِرِ وَالْخَفَائِيَّاتِ، الْمُطَّلِعِ عَلَى الضُّمُوءِ وَالنِّيَّاتِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ الَّذِي خَتَمَ بِرِسَالَتِهِ جَمِيعَ الرِّسَالَاتِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، الْمُسَارِعِينَ بِالْخَيْرَاتِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Segala puji bagi Allah, Pencipta seluruh makhluk, Yang Maha Mengetahui akan yang tampak dan yang tersembunyi. Dia yang mengawasi hati nurani dan niat setiap individu. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya, yang menjadi penutup risalah-Nya, diutus untuk seluruh umat manusia. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada-Nya, keluarganya, dan para sahabat yang berlomba dalam kebaikan serta menyampaikan salam yang banyak.

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meninggalkan apa yang terlihat dari dosa-dosa dan apa yang tersembunyi, sebagaimana firman-Nya -yang Maha Mulia-:

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

‘Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” [Al-An’am: 120]. Dalam ayat ini terdapat larangan terhadap dosa, sambil menjelaskan bahwa hal itu tidak dihapuskan karena disembunyikannya dan penyembunyian dosa tersebut. Yang dimaksud dengan dosa dalam ayat ini adalah segala bentuk kemaksiatan yang dapat mendatangkan dosa dan kesusahan bagi hamba, bersamaan dengan perintah yang tegas untuk meninggalkan segala yang diharamkan. Selain itu, terdapat ancaman yang keras bagi para pelaku dosa. Akan tetapi, banyak di antara manusia yang menyembunyikan banyak dosa, terutama dosa-dosa hati seperti kesombongan, rasa bangga, riya’, hasad, iri hati, keinginan untuk terkenal dan tampil, serta keinginan untuk berbuat buruk kepada sesama muslim. Bahkan, seseorang dapat memiliki banyak dosa tanpa ia merasa atau menyadarinya, dan ini merupakan sikap mengabaikan ilmu dan kekurangan pemahaman dalam agama.

Dalam wasiatnya kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku menasehatimu untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan.” Dan Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata: “Janganlah engkau menjadi wali Allah di tempat terang-terangan, dan menjadi musuh-Nya di tempat tersembunyi.”

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya di antara manusia ada yang takut agar orang lain tidak mengetahui kesalahan yang ia lakukan. Ia menjadikan Allah lebih rendah dari penglihatan orang lain, padahal ia tetap akan diminta pertanggungjawaban atas semua yang ia sembunyikan dan ia tunjukkan, yang mana Allah -yang Maha Mulia- adalah yang paling berhak untuk ditakuti. Ibnul A’rabi rahimahullah berkata: “Orang yang paling merugi adalah orang yang menunjukkan kebaikannya kepada manusia dan menampakkan kejelekannya kepada Allah, padahal ia lebih dekat kepada dirinya sendiri daripada urat lehernya.”

Dan sebagian ulama mengatakan: “Seseorang dapat menyembunyikan apa yang tidak disukai oleh Allah Yang Maha Mulia, lalu Allah akan menampakkannya kepada orang tersebut, meskipun setelah beberapa waktu. Lisan bisa memberikan kesaksian terhadap apa yang tidak dilihat oleh orang lain, dan mungkin juga menjerumuskan seseorang ke dalam bencana yang mempermalukan di antara manusia, sehingga menjadikannya jawaban atas segala dosa yang ia sembunyikan. Hal ini bertujuan agar manusia tahu bahwa ada pembalasan atas kesalahan.

Wahai hamba-hamba Allah, seorang mukmin harus memastikan keikhlasan dalam perbuatan untuk Allah, selalu merasa diawasi oleh Tuhannya, dan takut akan buruknya akibat perbuatannya. Ibnu Abu Mulaykah meriwayatkan bahwa beliau mendapati tiga puluh orang dari sahabat Nabi ﷺ, semuanya khawatir akan kemunafikan terhadap diri mereka sendiri. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Hanya seorang mukmin yang takut pada nifaq, dan tidak ada jaminan darinya kecuali bagi seorang munafiq.”

Dan ‘Ikrimah bin ‘Ammar berkata: “Muhammad bin Al-Munkadir bersedih ketika sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ‘Mengapa engkau bersedih?’ Ia menjawab: ‘Aku takut pada ayat dari Kitab Allah ta’ala,

وَبَدَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مَا لَمْ يَكُوْنُوْا يَحْتَسِبُوْنَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang dahulu tidak pernah mereka perkirakan.” (Az-Zumar: 47).

Aku takut agar tidak nampak bagiku sesuatu dari Allah yang tidak aku perkirakan.”

Demikianlah, seorang mukmin selalu memuliakan dan mengagungkan Tuhannya, yang selalu mengetahui kesadaran dan batinnya yang dekat dengannya dalam setiap keadaan, sebagaimana firman-Nya yang Mulia:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16). Maka dia malu terhadap Allah yang melihat jika ia melakukan perbuatan yang dilarang-Nya, atau dia meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya.

فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، أَجْمَلِ النَّاسِ وَأَبْهَاهُمْ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْسَنِهِمْ وَأَحْلَاهُمْ مِنْ قَرِيبٍ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمِينِ، تَامِينِ كَامِلِينِ، إِلَى يَوْمِ الْمَزِيدِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ يَا مَنَّان.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الْكُفْرَ وَالْكَافِرِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ، اللَّهُمَّ وَاحْفَظْ بِلَادَ الْحَرَمَيْنِ، مِنْ شَرِّ الْأَشْرَارِ، وَأَذِيَةِ الْفُجَّارِ، وَكَيْدِ الْكَائِدِينَ، وَمَكْرِ الْمَاكِرِينَ، وَمِنْ كُلِّ مُتَرَبِّصٍ وَحَاسِدٍ وَحَاقِدٍ، وَعَدُوٍّ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ وَاجْعَلْهَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً وَسَعَةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَبْرَمْ لِأُمَّةِ الْإِسْلَامِ أَمْرًا رَشِيدًا، يُعِزُّ فِيهِ أَهْلَ طَاعَتِكَ، وَيَهْدِي فِيهِ أَهْلَ مَعْصِيتِكَ، وَيَأْمُرُ فِيهِ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَى فِيهِ عَنِ الْمُنْكَرِ، يَا سَمِيعَ الدُّعَاءِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْأَدْوَاءَ، وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ، وَالْمِحَنِ وَسُوءِ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذِهِ خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ، وَالْمُرَابِطِينَ عَلَى الثُّغُورِ، وَحُمَاةِ الْحُدُودِ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِينًا وَنَصِيرًا، وَمُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا، اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي الْأَوْطَانِ وَالدُّوَرِ، وَأَصْلِحِ الْأَئِمَّةَ وَوُلَاةَ الْأُمُورِ، وَاجْعَلْ وَلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، وَخُذْ بِنَاصِيتِهِ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى، اللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُسْلِمِينَ، وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، غَيْرَ مُبَدِّلِينَ وَلَا مُغَيِّرِينَ، وَغَيْرَ خِزَايَا وَلَا مَفْتُونِينَ.

(سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)[الصَّافَّاتِ: 180-182].

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, manusia yang paling indah dan mulia, baik dari jarak yang jauh maupun dari dekat. Shalawat dan salam yang senantiasa tercurah, sempurna, hingga hari kiamat. Ya Allah, ridhai para khalifah yang diberi petunjuk, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kumpulkanlah kami bersama mereka dengan limpahan rahmat dan kemurahan-Mu, wahai Yang Maha Pemberi.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakan dan hancurkanlah kekafiran dan orang-orang kafir. Binasakan musuh-musuh agama-Mu, ya Allah, peliharalah Tanah Suci dari kejahatan orang-orang jahat, kerusakan orang-orang fajir, tipu daya orang-orang yang mempunyai tipu daya, dan muslihat orang-orang yang licik. Lindungilah dari segala yang mengintai, iri hati, dan dendam, serta dari musuh agama dan umat Islam.

Ya Allah, jadikanlah negeri-negeri kami aman dan tenteram, sejahtera dan lapang, begitu pula negeri-negeri umat Islam lainnya. Ya Allah, tetapkanlah kebijaksanaan untuk umat Islam, dimana yang taat kepada-Mu dihargai dan yang durhaka kepada-Mu mendapatkan petunjuk, dan dimana yang baik diperintahkan dan yang buruk dilarang. Wahai Tuhan Semesta Alam.

Ya Allah, angkatlah dari kami penyimpangan, malapetaka, zina, riba, gempa bumi, bencana, dan segala cobaan yang buruk,. Baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, khususnya di negeri kami, dan seluruh negeri umat Islam.

Ya Allah, berikanlah pertolongan kepada saudara-saudara kita yang lemah dan para mujahidin di jalan-Mu, serta mereka yang berjaga-jaga di perbatasan dan menjaga wilayah-wilayah. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai pembantu, penolong, dan pendukung bagi mereka. Wahai Allah, amanahkan kami di negeri dan tempat tinggal kami, perbaikilah pemimpin dan penguasa-penguasa urusan kami, dan jadikan wali amanah yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Tuhan sekalian alam.

Ya Allah, bimbinglah pemimpin kita dalam perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan ridhai. Wahai Yang Maha Hidup, berikan petunjuk kepada mereka agar berlaku adil dan bertaqwa. Ya Allah, berikanlah kehidupan kepada kami sebagai orang-orang Muslim, dan wafatkanlah kami dalam keadaan sebagai Muslim, tanpa perubahan dan tanpa dicobai.

(Maha Suci Rabbmu, Rabb Yang memiliki kebesaran dari apa yang mereka gambarkan. Dan salam sejahtera atas para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.) [As-Shaffat: 180-182]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *