Khutbah Jum’at Masjidil Haram 10 Jumadil Awwal 1445 H
Khutbah Jum’at Masjidil Haram
10 Jumadil Awwal 1445 H (24 November 2023)
“Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia sungguh telah dianugerahi karunia yang banyak.”
Oleh: Syaikh Dr. Maher Al-Mua’iqly hafizhahullahu ta’ala
Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ، الحمدُ للهِ الذي وَسِعَ كلَّ شيءٍ رحمةً وعلمًا، -سبحانه- هو الواحد الأحد الصمد، الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوًا أحد، وأشهد ألَّا إلهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، أحقُّ مَنْ عُبِدَ، وأنصرُ مَنِ ابْتُغِيَ، وأرأفُ مَنْ مَلَكَ، وأوسعُ مَنْ أَعطى، أحمده -سبحانه- حمدًا كثيرًا، كما يحب ويرضى، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبدُه ورسولُه، ومصطفاه وخليلُه، صلى الله وسلم وبارك عليه، وعلى آله وأصحابه وسلَّم تسليمًا كثيرًا.
Segala puji bagi Allah. Segala Puji bagi Allah Yang meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu-Nya. Maha Suci Dia. Dialah Yang Maha Esa, Yang Maha Kekal, Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada yang sederajat dengan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yang paling berhak untuk diibadahi, dan yang menjadi penolong bagi orang-orang yang mencari pertolongan, Yang Maha Pemurah dan Maha Luas (karunia-Nya). Aku memuji-Nya, Maha Suci Dia, dengan pujian yang berlimpah, sebagaimana Dia mencintai dan ridha. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan Utusan-Nya, orang pilihan-Nya dan kekasih-Nya, semoga shalawat dan keberkahan dilimpahkan baginya, dan atas keluarga serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba’du.
Wahai kaum muslimin! Aku berpesan kepadamu dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, maka bertakwalah kepada Allah, semoga Allah merahmatimu, dan ikutilah jalan petunjuk, hindarilah jalan yang melalaikan dan merusak, dan isilah hati kalian dengan takwa, karena akhirat lebih baik dan lebih kekal. Orang yang cerdas adalah orang yang menyiapkan bekal di dunia untuk akhiratnya, dan di masa mudanya sebelum masa tuanya, dan di masa sehatnya sebelum sakitnya, dan di waktu senggangnya sebelum waktu sibuknya.
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” [Al-Baqarah:281].
Umat Islam!
Ciri-ciri para nabi, orang-orang shalih, dan para ulama yang beramal, yang dengannya Allah mengutus rasul-rasul-Nya, dan yang atasnya Dia menetapkan alam semesta dan hukum-hukum-Nya, suatu nikmat yang luar biasa yang Allah ingatkan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu hikmah.
Allah berfirman:
وَّاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمَآ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتٰبِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهٖ
“Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu.” [Al-Baqarah:231]
Hikmah adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, melalui ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan mengetahui tujuan syariat, ia akan menuntun pemiliknya, menutupinya dengan pakaian yang bermartabat, dan melindunginya dari apa pun yang membawa aib dan keburukan. Ibnu Uyainah berkata: Dikatakan: “Sebaik-baik apa yang diberikan kepada seorang hamba, di dunia ini adalah hikmah, dan di akhirat adalah rahmat.”
Orang yang paling agung hikmahnya adalah para nabi dan rasul. Karena pahala yang Allah anugerahkan kepada mereka, dalam membawa risalah dan menyampaikan dakwah. Allah berfirman, melalui Nabi kita ﷺ:
وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar. “ [An-Nisa: 113]
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling berilmu, paling bermanfaat, dan paling bijaksana. Perjalanan hidupnya yang harum dipenuhi dengan hikmah (kebijaksanaan).
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah).” [Al-Jumu’ah: 2]
Di dalam Shahihain beliau ﷺ bersabda: “Atap rumahku terbuka ketika aku berada di Makkah, kemudian Jibril datang, kemudian membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air zam-zam, kemudian dia datang dengan bejana dari emas yang penuh dengan hikmah dan iman, kemudian dia memasukan isi bejana tersebut ke dalam dadaku, kemudian menutup dadaku kembali.”
Orang-orang yang paling berbahagia dan bijaksana adalah mereka yang mengetahui tentang biografi Nabi, mengikuti petunjuknya, dan meneladani Sunnahnya.
Dan hikmah (kebijaksanaan) Rasulullah ﷺ telah beliau tunjukkan, baik dengan mereka yang menerima dakwahnya, atau dengan orang-orang yang menyelisihinya dan tidak mau beriman kepadanya. Disebutkan dalam shahihain, ketika Rasulullah ﷺ kembali dari perang Bani Musthaliq, seorang laki-laki dari kaum Anshar bertengkar dengan seorang laki-laki dari kaum muhajirin. Sahabat dari kaum Anshar berkata: ‘Wahai kaum Anshar. Dan sahabat dari kaum muhajirin berkata: ‘Wahai kaum muhajirin’. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa-apaan kalian dengan seruan jahiliyah ini? Tinggalkan ia, sebab ia adalah seruan keji.” Ketika berita itu sampai ke dedengkot orang-orang munafik, Abdullah bin Salul, dia berusaha untuk memecah belah kaum muslimin, mengobrak-abrik persatuan mereka. Ia berkata: “Jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Lalu perkataannya tersebar di antara manusia, dan membuat mereka saling berdebat. Hingga hampir terjadi (fitnah) perselisihan di antara mereka. Ketika hal ini dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ dia memerintahkan para sahabat untuk melanjutkan perjalanan tanpa henti, mereka berada dalam cuaca yang sangat panas, siang dan malam, sehingga mereka sibuk dengan perjalanan mereka dari tempat mereka berada, sehingga ketika mereka bangun di pagi hari, apa yang dibisikan setan di antara mereka telah hilang dari dada mereka. Dengan hikmah, perselisihan dapat dicegah, keamanan dipertahankan, kalimat dipersatukan, dan manusia tercukupi kepentingan dunia dan akhiratnya. Betapa banyak ketiadaan hikmah menjadikan manusia mengikuti hawa nafsu yang merugikan dan membahayakannya.
Saudaraku, umat Islam!
Di antara contoh hikmahnya ﷺ adalah, diriwayatkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana dia berkata: “Saat kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang Arab Badui datang dan buang air kecil di masjid. Maka orang-orang berteriak kepadanya, (dalam riwayat Bukhari disebutkan: orang-orang memberontak terhadapnya untuk menyerangnya) artinya: dengan memukulinya dan sejenisnya. Ketika Rasulullah ﷺ melihat itu, beliau bersabda “Tinggalkan dia dan siramlah air kencingnya dengan setimba air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.” Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis atau kotoran. Masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, sholat, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Saudara seiman!
Sungguh akhlak mulia Nabi Muhammad ﷺ ini merupakan salah satu aspek dari hikmah (kebijaksanaan), kelembutan, dan belas kasihan beliau, yang dengannya beliau memikat hati orang-orang di sekitarnya, terlepas dari perbedaan sifat dan keragaman tabiat mereka. Sesungguhnya kelembutan itu tidak akan ada pada apapun kecuali akan memperindahnya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya. Nabi ﷺ tidak mencerca atau menghina, melainkan mengajarkan kepada manusia ucapan yang paling baik. dan teguran yang paling indah. Sampai orang Badui tadi berdoa dalam shalatnya: “Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad. Dan jangan sayangi orang-orang selain kami berdua.” Ketika Nabi ﷺ selesai dari shalatnya, dia berkata kepadanya: “Engkau telah membatasi sesuatu yang sangat luas.”.” Maksud beliau adalah rahmat Allah yang luas. Jika Nabi ﷺ membiarkan sahabat sahabat beliau membentaknya maka akan mengakibatkan keburukannya banyak.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Ali Imran 159)
Ma’asyiral Muslimin!
Kebutuhan akan hikmah semakin meningkat dalam urusan kita sehari-hari, khususnya di antara pasangan untuk keberlangsungan kasih sayang dan cinta. Dalam pergaulan Nabi ﷺ dengan istri-istrinya, kesabaran dan ketabahannya, serta perilakunya yang baik, itu adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang mukmin dan merenungkanya.
Dalam Shahih Bukhari dikisahkan, ketika Nabi ﷺ berada di rumah Aisyah, Ummul Mu’minin, Zainab, mengirimkan beliau sepiring berisi makanan, maka timbulah rasa cemburu di hati Aisyah, itulah hal yang setiap wanita rasakan terhadap istri yang lain. Dia lalu memukul piring dan membuat makanan berserakan di depan mata Rasulullah ﷺ, sehingga beliau dengan kerendahan hatinya, membereskan pecahan piring dan sisa makanan, mengumpulkannya dari tanah, lalu beliau merayunya dengan ekspresi yang paling lembut, pernyataan yang paling manis, dan permintaan maaf yang paling indah, maka beliau berkata: “Ibu kalian cemburu, ibu kalian cemburu”. Maka beliau ﷺ menjaga hati Aisyah yang dicintainya, dan dia tidak menyakiti dan mencelanya dengan sepatah kata pun. Dan di antara sifat adilnya, beliau mengirimkan piring Aisyah kepada Zainab (sebagai ganti piringnya yang pecah, pent), sehingga Zainab merasakan keadilan dan kejujurannya, Demikian pula Aisyah dipenuhi dengan kasih sayang dan kebaikannya, sehingga semua orang puas dengan hikmah (kebijaksanaannya) ﷺ.
Saudara-saudara!
Musyawarah adalah bagian dari hikmah (kebijaksanaan). Karena hal tersebut memerlukan pendapat yang baik dan tindakan yang mulia. Allah ta’ala memerintahkannya kepada Nabi-Nya ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ adalah orang yang sering bermusyawarah bersama orang-orang di sekitarnya, dan beliau adalah orang yang paling sempurna akalnya dan tepat pandangannya. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadi marah karena mengira hak-hak mereka telah dirugikan, hingga Al-Faruq (Umar) radhiyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, ‘Bukankah kita berada dalam kebenaran sedangkan mereka dalam kebatilan?’. Beliau menjawab: “Ya.” Umar berkata: ‘Bukankah orang-orang yang terbunuh dari kami berada di Surga, sedangkan orang-orang yang terbunuh dari mereka berada di Neraka?’. Beliau menjawab: “Ya.” Umar berkata: ‘Kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita dan kembali? Beliau pun bersabda: “Wahai Ibnu Khaththab; Sesungguhnya aku Rasulullah ﷺ, sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakanku.”
Dan dalam Musnad Imam Ahmad dikisahkan “Ketika Rasulullah ﷺ selesai dari kontrak perjanjian Hudaibiyah, ia berseru kepada sahabat-sahabatnya: “Bangunlah dan sembelihlah kurban-kurbanmu, lalu cukur rambut kamu”. Demi Allah, tidak ada satupun dari sahabat-sahabat Nabi ﷺ yang berdiri mengikuti perintah, sekalipun perintah itu diulang tiga kali. Setelah terlihat tidak ada satupun yang menunaikan perintah, Nabi ﷺ masuk ke kemah Ummu Salamah sambil menceritakan pembangkangan ini. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Nabi, apakah kamu ingin mereka melakukan hal itu? Kamu keluar saja dari kemah, tidak perlu berbicara sepatah kata apapun kepada siapapun, kamu mulai saja menyembelih kurbanmu dan undang tukar cukur untuk memangkas rambutmu”. Ketika para sahabat melihat sendiri Nabi melakukan semua hal itu, merekapun berdiri, menyembelih kurban dan mencukur rambut mereka satu sama lain”. Maka pendapat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi pendapat yang berhasil, musyawarah yang penuh berkah, dan mengandung hikmah (kebijaksanaan).
Hikmah itu seperti sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, dimana saja dia menemukannya, maka dia berhak mengambilnya. Salah satu dari ciri-cirinya adalah bahwa seorang manusia selalu mencari petunjuk di dalam setiap tindakannya. Dia mendahulukan perkara yang lebih penting dari yang penting serta mengutamakan perkara yang lebih utama dibandingkan yang utama, jika ada pertentangan di dalam dua perkara sesuatu yang bersifat umum dan khusus maka diutamakannya umum daripada yang khusus. Apabila ada suatu tindakan yang dapat membawa kepada kebaikan dan kemudaratan, maka diutamakan perkara yang dapat mencegah kemudaratan dari perkara yang mendatangkan kebaikan. Seorang yang bijaksana tidak akan masuk di dalam sesuatu perkara, melainkan juga telah memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Di antara bentuk hikmah juga adalah diamnya seseorang ketika diam itu lebih baik dan berbicara apabila berbicara itu adalah lebih baik. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” Takutlah kepada Allah, mereka yang menjadi sebab perselisihan dan perpecahan di media sosial dengan berlindung di belakang nama nama palsu. Allah maha memperhatikan mereka mengetahui apa yang ditulis oleh tangan mereka dan apa yang tersembunyi di dalam dada dada mereka.
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” [An-Nur:24].
Di antara bentuk hikmah juga adalah menyuruh manusia sesuai kemampuan akal dan pengetahuan mereka serta memperhatikan budaya mereka. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan suatu pembicaraan yang tidak dipahami akal mereka, melainkan akan terjadi fitnah pada sebagian mereka.”
Bertakwalah wahai hamba Allah dan hiasilah diri kalian dengan hikmah di dalam setiap keadaan. Sesungguhnya ia merupakan anugerah yang agung, carilah ia dari sumbernya, dan mohonlah dari Allah agar menambahkannya.
Allah berfirman,
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” [Al-Baqarah :269].
Semoga Allah memberkahiku dan kalian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan memberi manfaat bagiku dan kalian dari ayat-ayat dan hikmah yang dikandungnya. Saya mengucapkan apa yang kamu dengar, dan saya mohon ampun kepada Allah, maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah yang Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khotbah kedua:
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelita yang memberi pencerahan. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Amma ba’du
Wahai kaum mukminin!
Di antara hikmah itu ada yang murni pemberian Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, ada juga yang dapat diupayakan untuk diraih, karena semua ilmu itu diperoleh dengan belajar dan kesantunan itu terlatih dengan berlaku santun seperti hal kesabaran juga terbentuk dengan proses latihan bersabar. Allah mengaruniakan sifat-sifat tersebut bagi siapa saja yang menempuh sebab sebab untuk meraihnya dan memenuhi rukun-rukunnya. Hal tersebut hanya akan diraih dengan meminta dari Rabb yang memilikinya, Allah ﷻ.
Dan di antara sarana memperoleh hikmah adalah keikhlasan dan ketakwaan, serta rasa takut kepada Allah. Barangsiapa takut kepada Allah, maka hidupnya akan teratur, dan akan membaik apa-apa yang tersembunyi dan yang nampak darinya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Al-Hadid :28].
Adapun para pengikut bid’ah dan hawa nafsu, mereka telah terhalangi dari hikmah. Nafsu membutakan dan memekakkan telinga. Kedudukan sabar dan berhati-hati dalam hikmah, seperti kedudukan kepala dengan jasad. Nabi ﷺ bersabda kepada Asyajj Abd Al-Qais: “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua karakter yang disukai oleh Allah, yaitu sabar dan berhati-hati’.” (HR. Muslim). Kesabaran adalah bagian dari akal, dan berhati-hati adalah tatsabbut (selalu mengklarifikasi sesuatu) dan menghindari ketergesa-gesaan.
Saudara seiman!
Di antara bentuk hikmah adalah mengabaikan kesalahan dan kekeliruan seseorang, dan menyebutkan keutamaan dan sisi kebaikan mereka. Ketika beberapa istri Nabi ﷺ melakukan unjuk jasa kepada beliau ﷺ, Allah berfirman atas menggambarkan respon Nabi ﷺ,
اِذْ اَسَرَّ النَّبِيُّ اِلٰى بَعْضِ اَزْوَاجِهٖ حَدِيْثًاۚ فَلَمَّا نَبَّاَتْ بِهٖ وَاَظْهَرَهُ اللّٰهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهٗ وَاَعْرَضَ عَنْۢ بَعْضٍۚ
“Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Lalu dia menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain.” [At-Tahrim: 3]
Mengabaikan kesalahan adalah adab yang agung, dan akhlak kenabian yang mulia. Orang yang bijaksana senantiasa berlaku lembut kepada orang lain dan tidak bersikap kasar. Berkata-kata lembut kepada mereka adalah salah satu sebab hadirnya kasih sayang dan tercabutnya kedengkian. Dalam Fathu Mekkah, ketika Abu Sufyan mengumumkan masuk Islam, Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya Rasulullah: Abu Sufyan adalah orang yang menyukai kesombongan, maka buatlah sesuatu untuknya.” Beliau bersabda: “Iya! Siapapun yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka dia aman.” (HR. Muslim) Maka Rasulullah ﷺ dengan hikmahnya ingin mengkhususkan rumah Abu Sufyan demi keamanan dan keselamatan, demikian itu sebagai cara untuk membuat ridho jiwanya dan untuk menguatkan keimanannya.
Pengalaman dapat mengasah sifat bawaan, membuat orang berakal menjadi bijaksana, dan menambahkan kesantunan orang yang santun. Dalam hadits yang menceritakan Isra dan Mi’raj, Nabi Musa berkata kepada Nabi kita ‘alaihimusholatu wa salam, “Sungguh ummatmu tak akan sanggup melaksanakan lima puluh kali shalat dalam sehari. Dan aku -demi Allah-, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelummu, aku telah berusaha keras membenahi Bani Israil dengan sungguh-sungguh. Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.” Maka, Nabi pun berulang kembali kepada Rabb-nya, hingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad” Beliau menjawab: “Aku penuhi panggilanmu” Allah berfirman: “‘Sesungguhnya ketetapan itu tidak boleh diganti dari sisi-Ku sebagaimana Aku wajibkan atasmu dalam ummul kitab. Maka setiap satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya, maka lima kali shalat itu tercatat lima puluh kali dalam ummul kitab, sekalipun hanya dilaksanakan lima kali olehmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka anugerah Allah atas umat Muhammad ﷺ adalah mereka shalat lima waktu sehari, dan pahalanya lima puluh. Maka, ya Allah, segala puji bagi-Mu atas karunia-Mu dan kemurahan, serta kebaikan-Mu.
Akhirnya marilah kita sampaikan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, penghulu seluruh manusia, karena Allah telah memerintahkan kalian untuk melakukan itu. Allah berfirman
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab:56]
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, serta berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya pujian dan keutamaan itu milik-Mu. Dan Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapat petunjuk, para Imam yang mendapat petunjuk; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para sahabat lainnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam baik hingga hari kiamat, dan kumpulkanlah kami bersama mereka dengan rahmat-Mu, ya Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمينَ، واجعَلْ هذا البلدَ آمِنًا مطمئنًّا وسائرَ بلاد المسلمينَ، اللهم أَصْلِحْ أحوالَ المسلمينَ في كلِّ مكانٍ، اللهم إنَّا نسألُكَ بفضلِكَ ومِنَّتِكَ، وجودِكَ وكرمِكَ، أن تحفَظَنا مِنْ كلِّ سوءٍ ومكروهٍ، اللهم ادفع عنا الغلا والوبا والربا والزنا، والزلازل والمحن، وسوء الفتن، ما ظهَر منها وما بطَن، اللهم إنَّا نعوذ بكَ من جَهد البلاء، ودَرَك الشقاء، وسوء القضاء، وشماتة الأعداء، وسوء القضاء، اللهم إنَّا نسألك من الخير كلِّه، عاجِلِه وآجِلِه، ما عَلِمْنا منه وما لم نعلم، ونعوذ بكَ من الشرِّ كلِّه عاجلِه وآجلِه، ما عَلِمْنا منه وما لم نعلم، اللهم إنَّا نسألكَ الجنةَ وما قرَّب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بكَ من النار وما قرَّب إليها من قولٍ أو عملٍ، اللهم أحسِنْ عاقبَتنا في الأمور كلِّها، وأَجِرْنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة، اللهم اشف مرضانا، وعاف مبتلانا، وارحم موتانا، وكن للمستضعفين منا برحمتك يا أرحم الراحمين، اللهم يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم، وفق خادم الحرمين الشريفين لما تحب وترضى، واجزه عن الإسلام والمسلمين خير الجزاء، اللهم وفقه وولي عهده الأمين، لما فيه خير للإسلام والمسلمين، اللهم وفق جميع ولاة أمور المسلمين لما تحبه وترضاه، برحمتك يا أرحم الراحمين، اللهم احفظ شباب المسلمين من الفرق الضالة، والمناهج المنحرفة، اللهم جنبهم التفرق والحزبية، وارزقهم الاعتدال والوسطية، اللهم حبب إليهم الإيمان، وزينه في قلوبهم، وكره إليهم الكفر والفسوق والعصيان، واجعلهم من الراشدين، اللهم انفع بهم أوطانهم وأمتهم، برحمتك وفضلك وجودك يا أرحم الراحمين.
اللهم يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم، وفق خادم الحرمين الشريفين، اللهُمَّ وفقه وولي عهده الأمين لما تحبه وترضى، واجزهم عن الإسلام والمسلمين خير الجزاء، اللهم بارك سعيهم، وحقق مبتغاهم، وكن لهم مؤيدا ونصيرا وظهيرا، اللهم فرج هم المهمومين من المسلمين، ونفس كرب المكروبين، واقض الدين عن المدينين، واشف مرضانا ومرضى المسلمين.
اللهُمَّ يا ذا الجلال والإكرام، يا حي يا قيوم، عز جارك، وجل ثناؤك، وتقدست أسماؤك ولا إله غيرك، لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السموات ورب الأرض ورب العرش الكريم، اللهم كن لأهلنا وإخواننا في غزّة، اللهمَّ احفظهم من بين أيديهم ومن خلفهم، وعن أيمانهم، وعن شمائلهم، ومن فوقهم، ونعيذهم بعظمتكَ أن يُغتالوا من تحتهم، اللهم اجبُرْ كسرَهم، وارحم ضَعفهم، وأحسن عاقبتهم في الأمور كلها، برحمتك وفضلك وجودك يا أرحم الراحمين، يا رب العالمين، اللهم عليك بعدوك وعدوهم يا قوي يا عزيز، يا ذا الجلال والإكرام، اللهمَّ احفظ المسجد الأقصى، واجعله شامخًا عزيزًا إلى يوم الدين.
اللهُمَّ أحسن عاقبتنا في الأمور كلها، وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة، اللهُمَّ اشف مرضانا، وعاف مبتلانا، وارحم موتانا، وكن للمستضعفين منا، ربنا تقبل توبتنا، واغسل حوبتنا، وأجب دعوتنا، وثبت حجتنا، واهد قلوبنا، وسدد ألسنتنا، واسلل سخيمة قلوبنا؛ (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)[الْحَشْرِ: 10]، (سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)[الصَّافَّاتِ: 180-182].
Jazakallah khairan